Patroli24.com | Kota Pekalongan – Perkembangan digitalisasi merupakan keniscayaan yang harus disikapi secara bijak. Di satu sisi, teknologi menjadi katalis positif untuk mendongkrak dunia pendidikan dan literasi masyarakat. Namun di sisi lain, benteng pengawasan terhadap anak-anak dalam menggunakan gawai (smartphone) harus semakin diperkuat.

Pesan penting tersebut ditegaskan oleh Wali Kota Pekalongan, H.A. Afzan Arslan Djunaid (yang akrab disapa Aaf), saat memberikan sambutan dalam acara Penguatan Gerakan Literasi Digital Perpustakaan: Digital Cerdas-Gemar Membaca. Acara yang diinisiasi oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah ini digelar di GOR Jetayu, Kota Pekalongan, pada Senin siang (8/6/2026).
Lompatan Sempurna: Dari Juru Kunci ke

Empat Besar Jateng
Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Aaf mengapresiasi kerja keras seluruh elemen masyarakat yang berhasil membawa indeks literasi Kota Pekalongan melonjak tajam.

“Kita patut bersyukur, Kota Pekalongan yang pada periode 2021-2022 sempat terpuruk di peringkat terbawah se-Jawa Tengah, kini berhasil melesat dan menembus posisi empat besar pada tahun 2024,” ungkap Aaf.
Keberhasilan ini tidak lepas dari sinergi masif berbagai pihak, termasuk peran aktif para Bunda Literasi yang bergerak hingga ke tingkat kecamatan dan kelurahan.

Sisi Dua Mata Uang: Kemudahan Akses vs Tantangan Konten. Menurut Aaf, kemajuan teknologi memberikan kemudahan luar biasa bagi anak-anak untuk mengakses sumber belajar, buku digital, dan materi edukatif hanya lewat genggaman tangan. Kendati demikian, kemudahan ini membawa tantangan baru yang tidak kalah besar.

Tantangan Terbesar: Melindungi anak-anak dari paparan konten negatif atau konten yang belum layak dikonsumsi sesuai usia mereka.
Solusi Komprehensif: Kolaborasi aktif yang melibatkan tiga pilar utama, yaitu pemerintah, sekolah, dan lingkungan keluarga.

Pengawasan Dimulai dari Rumah: Ajakan Hidupkan Tradisi Mendongeng
Wali Kota menekankan bahwa benteng pertahanan utama anak di era digital bukanlah kebijakan pemblokiran situs oleh pemerintah, melainkan pengawasan ketat dari orang tua di rumah.
Sebagai langkah konkret penguatan literasi sejak dini, Aaf mengajak para orang tua untuk kembali menghidupkan kebiasaan-kebiasaan positif yang mulai luntur, salah satunya adalah mendongeng sebelum tidur.

“Kebijakan pemblokiran situs tidak akan efektif tanpa adanya pendampingan nyata. Anak-anak usia PAUD, SD, hingga SMP sangat butuh bimbingan agar teknologi yang mereka pegang benar-benar berdampak positif bagi tumbuh kembangnya,” pungkas Aaf.

(Wildan purna Irawan )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *