Pekalongan | Patroli24.com – Ilmu adalah cahaya, dan adab adalah pelita. Tanpa ilmu, kita meraba dalam gelap; tanpa adab, cahaya itu kehilangan arah.”
​Prolog: Gema Pesan yang Menembus Zaman
​Lima tahun yang lalu, di sebuah sudut ketenangan pondok pesantren Nurul huda di moga kabupaten Pemalang.

Sebuah kalimat terucap penuh wibawa dari lisan seorang ulama sepuh, Almarhum KH Ali Mas’ud bin Abdullah. Pesan sederhana itu bukanlah sekadar nasihat biasa, melainkan sebuah mandat spiritual yang kelak mengubah jalan hidup banyak manusia di Kota Pekalongan.
​”Wis Dan, Kon ora usah sibuk luru dunia trus laka entenge. Wis gawe pondok pa majlis Bae. Mulang ngaji Bae. Ngko dunia merek dewek.”
(Sudah, Dan. Kamu tidak usah terlalu sibuk mengejar dunia tanpa ada ringannya. Lebih baik dirikanlah pondok atau majelis saja. Mengajarlah ngaji, Nanti. dunia akan datang sendiri menghampiri).

Mendengar petuah yang sarat makna itu, sang murid, ustadz Wildan Purna Irawan, hanya bisa menunduk takdzim. Jawabannya singkat, namun menggetarkan arasy ketulusan: “Sami’na wa Atho’na (Kami mendengar dan kami patuh).” Ia meyakini seyakin-yakinnya, manakala urusan akhirat diutamakan dengan niat yang lurus, Allah swt. akan membereskan urusan dunia di luar batas kemampuan nalar manusia.
​Dari restu itulah, pada 11 Maret 2020, lahir sebuah oase rohani bernama Majlis Nurul Bahar wa Nashor.
​Dua Jalan Berbeda, Satu Tujuan di Jalan-Nya
​Keindahan sebuah majelis ilmu sering kali tercermin dari bagaimana ia merangkul keberagaman. Majlis Nurul Bahar wa Nashor menyimpan kisah persahabatan batin yang begitu unik antara dua insan dengan latar belakang yang amat kontras:
​Ustadz Wildan Purna Irawan: Seorang anak kandung pesantren yang telah lama menempa diri di tiga kawah candradimuka ilmu; Ponpes Mukhul Ibadah Bandung, Ponpes Nurul Huda Moga, hingga Ponpes Sunan Drajat Lamongan.
​Yosie Fredi: Seorang saudara kita yang terlahir kembali dalam cahaya hidayah sebagai seorang mu’alaf. Perjalanan hijrahnya ditempuh dengan penuh air mata kesungguhan, belajar mendalami Islam dari Cilacap hingga Karawang, hingga akhirnya mantap berserah diri kepada Sang Pencipta.
​Sebelum memulai langkah dakwah ini, keduanya menempuh adab tertinggi seorang pencari ilmu: sowan kepada para guru. Mereka bersimpuh di hadapan Abuya M. Iqbal (Pengasuh Ponpes Mukhul Ibadah Banjaran Cihamerang, Bandung) guna memohon doa restu. Dalam keheningan doa tersebut, Wildan pun menerima ijazah Kitab Sirrul Jalil karya Syekh Abil Hasan Asy-Syadzili.

​Perbedaan latar belakang ini bukanlah jurang pemisah, melainkan jembatan cinta kasih. “Kami ingin merangkul siapa saja. Baik mereka yang sejak kecil terbiasa berselimut sarung di pesantren, maupun saudara-saudara kita yang baru saja menapakkan kaki di jalan hijrah,” tutur Wildan lembut.
​Makna di Balik Simbol: Meniti Jejak Wali Songo.


​Jauh sebelum tinta pena menorehkan visi dan misi di atas kertas putih, kedua pendiri terlebih dahulu mengetuk pintu langit melalui salat istikharah. Hasil dari kontemplasi ruhani itu diterjemahkan ke dalam sebuah lambang sarat filosofi yang dirancang bersama sahabat mu’alaf di Karawang:
​Bentuk Segitiga: Simbol keteguhan, stabilitas, dan keseimbangan hidup yang berpijak pada habluminallah, habluminannas, dan habluminalalam.
​Kitab dan Pena Bulu: Menghidupkan kembali etos agung membaca, menulis, menggali, serta mengamalkan warisan para nabi.
​Kalimat Tauhid (Hasbunallah wa ni’mal wakil): Bentuk kepasrahan mutlak: Cukuplah Allah sebaik-baik Pelindung bagi langkah kami.
​Sembilan Bintang Melingkar: Sebuah ikrar suci untuk melanjutkan estafet dakwah penuh rahmat yang diwariskan oleh para Wali Songo di bumi Nusantara.
​Menyapa Mereka yang Terpinggirkan: Pesantren Gratis untuk Anak Jalanan
​Inilah denyut nadi kemanusiaan yang paling menyentuh dari Majlis Nurul Bahar wa Nashor. Di tengah dunia yang serba komersial, majelis ini hadir dengan idealismenya yang agung: 100% Gratis, tanpa memungut biaya sepeser pun.
​Prinsip mereka tegas dan mendasar: Ilmu dulu, baru adab. Sebab, bagaimana mungkin seseorang bisa berakhlak mulia tanpa mengenali siapa Tuhannya melalui ilmu?
​Setiap santri di sini dibimbing dengan disiplin ruhani yang ketat, diwajibkan mengkhatamkan 1 juz Al-Qur’an setiap hari, demi menggapai derajat mulia sebagaimana sabda Rasulullah saw.:
​”Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
​Lebih dari sekadar majelis taklim biasa, mereka kini tengah merajut asa yang lebih besar: mendirikan Pondok Pesantren khusus untuk anak-anak jalanan. Kurikulumnya dipersiapkan dengan matang—mengkaji Nahwu, Shorof, Tafsir, Fiqih, dan Tauhid—agar tangan-tangan mungil yang dulu terbiasa dengan kerasnya jalanan, kelak berubah lembut merangkai ayat-ayat suci Al-Qur’an.
​”Harapan kami tidak muluk-muluk,” ucap Wildan dengan suara bergetar menahan haru. “Kami hanya ingin, kelak dari bilik-bilik sederhana ini lahir anak-anak yang tidak sekadar pintar mengaji, tetapi memiliki keluhuran budi pekerti yang mampu menjadi penolong bagi umat di akhir zaman.”
​Epilog: Mengetuk Pintu Hati Umat
​Dakwah di jalan Allah bukanlah tentang seberapa besar fasilitas yang kita miliki, melainkan seberapa tulus kita merangkul mereka yang hampir putus asa. Wasiat Almarhum KH Ali Mas’ud telah menjelma menjadi nyata di Kota Pekalongan. Kini, giliran kita—hati nurani kita—yang dipanggil untuk ikut serta mengambil bagian dalam ladang amal jariyah ini.
​Mari bergandengan tangan, mengulurkan kebaikan, dan membersamai langkah mulia Majlis Nurul Bahar wa Nashor dalam menyelamatkan masa depan generasi bangsa.
​📍 Titik Kebaikan & Kesekretariatan
​Pusat Sekretariat: Perum Limas Jl. Piramida RT 01 / RW 18, Kelurahan Krapyak, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan.
​Asrama & Tempat Mengaji: Jl. Truntum Klego Gang 2/3 RT 01 / RW 10, Kelurahan Klego, Kecamatan Pekalongan Timur, Kota Pekalongan.
​Ditulis dengan setulus-tulusnya cinta kepada umat, di atas hamparan doa para pencari ridha Ilahi

( Sugi nur Zaki )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *